Jangan Redup, Rembulan! (Cerpen)


Rembulan takut menampakkan dirinya. Ia takut pada gelapnya semesta, serta awan hitam yang menutupinya. Cerianya kini mulai pudar, walaupun cahayanya tetap terlihat indah kala malam. Namaku Rembulan, panggil saja Bulan. Banyak orang bilang, aku gadis manis dan ceria. Mereka tidak tahu saja, hidupku tak seperti cahaya rembulan yang selalu terang. Begitulah kehidupan, kadang malam kadang siang. Saat ini, aku terjebak pada gelapnya malam. Namun, orang-orang tetap melihat bahwa cahayaku menerangi semesta. Ya, aku Rembulan, tetap akan terlihat ceria, tersenyum, dan gembira. Sebenarnya aku takut dengan hidup ini. Perasaanku kacau, dirundung gelisah, dan tak tentu arah. Lagi dan lagi Allah menjawab semuanya. Ada banyak masalah, banyak pula hikmahnya. Ada banyak kekecewaan, banyak pula terselip kebahagiaan. Satu persatu ujian kerap datang menghampiriku, mungkin karena diri ini bergelimang dosa. Allah timpakan ujian tersebut agar aku memohon ampunan dan semakin dekat kepada-Nya. Romantis sekali cara Allah. Aku ingat sekali tentang hari itu. Hari di mana semuanya menjadi sangat menyedihkan. 

"Dek, usaha ayahmu bangkrut. Ibu tidak tahu gimana lagi menghidupi kalian." tangis ibu pecah di pelukanku.

"Ta...ta...pi, kita masih punya tabungan kan Bu?" tanyaku dengan suara yang bergetar menahan tangis. Namun, ibu menggelengkan kepalanya, tanda bahwa tidak ada lagi harta yang tersisa dari usaha yang telah lama keluarga kami geluti. Aku tak mampu berkata sedikit pun. Entah bagaimana nantinya nasib keluarga kami. Aku dan kakak laki-lakiku masih kuliah. Ibu dan ayah melakukan segala cara agar kami tetap melanjutkan studi di bangku perkuliahan. Hutang keluarga kami sekarang ada di mana-mana. Aku tak tahu bagaimana cara orang tuaku membayarnya. Mereka sangat menyayangi anak-anaknya, tapi diri ini merasa tak enak hati selalu menjadi beban keluarga. Walaupun begitu, sebenarnya aku tidak setuju ketika orang tuaku selalu meminjam uang kepada orang lain. Apalagi melihat kondisi ekonomi keluarga kami sangat minim. Bagaimana cara membayarnya? pikirku. Sedangkan aku dan kakakku belum selesai kuliah. Aku sering kecewa kepada Ayah. Ia kerap kali meminjam uang tanpa sepengetahuan istri dan anak-anaknya. Padahal hidup seadanya sudah membuat kami bersyukur, yang penting bisa mencukupi kebutuhan pokok setiap harinya. Hal yang sangat membuatku sedih adalah saat ayah meminjam uang dengan bunga yang sangat besar. 

"Bagaimana kita akan membayar hutang tersebut ayah? Bunganya besar." tanyaku sembari memegang tangan ayah dengan raut wajah sedih.

"Ayah sudah tidak punya pilihan lain, Dek. Jangan pikirkan ayah, yang penting kamu bisa kuliah dan jadi anak yang sukses."

Seharian aku menangis di kamar, meratapi hidup yang kian gelap. Namun, teman-teman selalu melihat senyuman dari wajahku. Tak ada yang tahu betapa beratnya apa yang aku alami dalam hidup ini. Allah-lah yang Maha Tahu segalanya. Allah kuatkan hati ini untuk menerima segala apapun yang terjadi dengan lapang dada. Allah ajarkan diri ini arti sebuah kesabaran. Seperti firman Allah dalam Qur'an surah Al-Baqarah ayat 153 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Aku tahu ini berat bagi orang tuaku, tak seharusnya aku kecewa kepada mereka. Apa yang mereka lakukan demi anak-anaknya. Maafkan aku, ayah dan ibu. Aku belum bisa membantu kalian. Saat ini hanya doa-doa yang mampu kupanjatkan kepada Allah. Tidak ada doa-doa yang tak Allah kabulkan. Ya, kita perlu kesabaran menunggu jawaban serta kekuatan dalam menghadapi apapun yang Allah takdirkan. 

Imam Bukhari juga menjelaskan mengenai sabar, "Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran." (HR. Al Bukhari)

Jika jawaban dari doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah tak sesuai yang kita inginkan, berarti Allah ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Rencana Allah sudah pasti baik. Kita hanya bisa berencana, Allah menentukan segalanya. Saat ini, keluarga kami akan terus berikhtiar serta berharap kepada-Nya, dan akan selalu menunggu takdir indah yang sedang Allah siapkan. Rembulan tenanglah, jangan redup. Tampakkan indahmu, walau gelap begitu pekat menghampiri. Hidup tak selalu malam, akan ada siang menghiasinya. 


Wulandari,

Singkawang, 3 Mei 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mari Berhijrah dengan Niat Karena Allah||oleh Wulandari

Hanya karena-Nya dan Hanya Untuk-Nya